Rabu, 21 Agustus 2013




          My name’s Tony, kini aku menginjak usia remaja 17tahun, dimana pada masa itu kenakalan adalah hal yang tersulit untuk kuhindari. Aku sadar atas tingkahku, namun nafsulah yang menjadi majikanku.
 Dimulai saat aku makan malam bersama kaluargaku, cara makanku seperti tak memiliki adab, aku makan dengan rakus meski aku tau ayahku melihatku dengan tatapan sedih tak senang. Kehidupan malamku juga dimulai, saat siang teman-temanku yang kutau mereka lebih buruk dariku menjemputku untuk mengajakku bersenang-sennang seolah itulah hal yang paling nyata didunia ini. Ayahku semakin hari ssemakin terluka dengan sikapku, aku selalu mengabaikanya, yang kutau dalam fikiranku saat itu, aku membencinya dan tak membutuhkan ia hadir dihidupku.
          Tingkahku semakin menjadi, tengah malam aku baru pulang ke rumah, meski ayahku terus mearahiku aku membela diriku dengan perkataan tajam yang lebih tajam dari sebilah samurai. Entah berapa kali aku melukai perasaanya. Malam saat itu, ia benar-benar marah denganku yang baru pulang tengah malam dan hanya duduk diam menyantap nasi yang disiapkan oleh ibu.
 Pertengkaran sekian kali terjadi lagi namun ayahku benr-benar ingin menyadarkan ku atas kelakuan burukku, entah apa setan yang merasukiku, aku memilih pergi dari rumah, tak ada yang bisa menghentiakan keputusanku sekaliapun ibu berteriak memanggila namaku dan memohon berualang kali agar aku jangan pergi.
          Aku menjadi pekerja di sebuah konstruksi bangunan, aku tinggal bersama teman-temanku dan memiliki kehidupan yang tadinya aku impikan. Aku tak pernah kembali ke rumah, tak sedikitpun aku merindukan rumahkala itu. Saat aku bekerja pada lantai atas gedung, kejadian naasyang tak bisa kuhindari menimpaku, tali pengangaman yang kugunakan tidak kupasang dengan baik, aku begitu ceroboh. Tubuhku jatuh dari ketinggian lantai 7 gedung itu, yang kuliahat semua orang panic dan lari berhamburan menghampiriku. Dan pandanganku gelap.
          Hidupku sepenuhnya hancur, setelah kecelakaan itu terjadi kini aku hanya bisa diam duduk dikursi rodaku. Ibu dan keluargaku membawaku kembali kerumah. Yang kulakuakan setiap hari hanya melihat jendela dan merenungi nasib yang menimpaku, tubuhku lumpuh saraf-sarafku sulit untuk berfungsi kembalai, jalan saja aku tak mampu. Ibu sangat terpukul atas apa yang terjadi padaku, tapi ternyata ayahku lebih terpukul, ia menangis melihatku menjadi seperti boneka yang diam saja tanpa semangat untuk hidup, setiap hari aku menolak makanan yang ibu ambiilkan untukku. Hatiku hancur.
          Kala itu sore hari aku sedang berbaring di tempat tidurku, tiba-tiba ayah datang dan menggendongku keluar tanpa berkata apa-apa, aku bertanya terus mengapa ia membawaku keluar, ia menaruh kedua tanganku di bahu belakanganya dan ia terus menyemangatiku agar aku mau belajar berjalan kembali. Padahal tubuhku lebih besar deri ayah, tubuh kecil dan tuanya seoalah tak keberatan untuk merangkulku dan mengajariku. Setiap hari ia lakukan itu padaku, hatiku hancur krmbali, bagaimana bisa bertahun-tahun menyayat hatinya yang begitu lembut padaku.
          Aku bisa berjalan kembali!! Meski terbata-bata namun ini aku bisa menuju meja makan dengan kakiku sendiri. Ayah begitu bahagia melihatku bahakan bahagiaku tak cukup untuk menggambarkan rasa bahagianya. Ia ayah terhebat yan kumiliki. Saat aku kecil ia mengajariku berjalan, dan saat aku dewasa kini ia kembali mengajariku berjalan. Cinta nyatanya begitu ada dihatiku. Aku berlari meski sulit, aku menggapai tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Aku menyesali semua yang kulakukan padanya, aku benar-benar menyesalinya. Tak sepantasnya aku melukai pahlawanku. Ayah, maafkan aku, aku mencintaimu.
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar